Di tengah ramainya perbincangan soal implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS), Founder Toge Productions, Kris Antoni, ikut menyuarakan pandangannya melalui media sosial.

Dalam pernyataannya, ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan protes terkait isi Peraturan Presiden Nomor 19 Tahun 2024, khususnya mengenai usulan agar sistem IGRS diperluas dan berpotensi menjadi sumber penerimaan negara non-pajak.
Menurutnya, ada kekhawatiran bahwa sistem rating yang awalnya bertujuan untuk meningkatkan awareness justru bisa bergeser fungsi. Ia menilai ada potensi sistem ini dimanfaatkan sebagai alat untuk:
- Sensor konten
- Pengendalian distribusi
- Bahkan pengaturan aliran dana dalam industri
Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri game, terutama terkait kebebasan berekspresi dan transparansi regulasi.
Dalam materi yang dibagikan, disebutkan beberapa poin utama yang menjadi perhatian:
- Sistem klasifikasi dinilai masih memiliki kelemahan mendasar
- Berpotensi digunakan untuk gatekeeping atau pembatasan akses
- Risiko menjadi alat pembenaran untuk sensor politik
- Jika diterapkan sebagai sistem berbayar, berpotensi membuka celah korupsi
Pernyataan ini semakin menambah panas diskusi seputar implementasi IGRS, terutama setelah sebelumnya muncul polemik terkait penerapan rating di platform seperti Steam.
Banyak pihak kini mempertanyakan arah kebijakan yang diambil apakah tetap fokus pada perlindungan konsumen, atau justru berpotensi membatasi ruang gerak industri kreatif.















![[Tutorial] Cara Mendapatkan Kemampuan Lompatan Ganda di Crimson Desert](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/7StKQB3euTrxpdBpWYWPmT-120x86.webp)

![[Recomendasi] 5 Game RPG Korea Terbaik Berdasarkan Peringkat](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/14901030711713929592-120x86.webp)
![[Review] DLC Assassin’s Creed Mirage : Valley of Memory, Kisah Perjalanan Basim yang Luar Biasa](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/Assassins-Creed-Mirage-Valley-of-Memory-Review-120x86.jpg)