Game terbaru dari Double Fine Productions berjudul Kiln sebenarnya datang dengan konsep yang sangat unik. Menggabungkan mekanik membentuk keramik dengan pertarungan tim 4v4 berbasis fisika, game ini bahkan langsung hadir di Xbox Game Pass saat rilis.

Namun, realita di Steam justru menunjukkan cerita yang berbeda.
Peluncuran yang Sepi di Steam
Meski tergolong game first-party dari Xbox Game Studios, Kiln mencatat angka pemain yang sangat rendah di Steam.
Data menunjukkan game ini hanya mencapai puncak sekitar 190-an pemain aktif saat rilis, dan bahkan turun ke kisaran ratusan pemain saja dalam waktu singkat.
Untuk ukuran game multiplayer, yang sangat bergantung pada jumlah pemain aktif, angka ini jelas menjadi sinyal bahaya.
Konsep Unik, Tapi Tidak Cukup Kuat
Secara konsep, Kiln sebenarnya cukup segar. Pemain membuat karakter dari tanah liat, dan bentuknya memengaruhi kemampuan dalam pertempuran.
Namun, keunikan ini tampaknya tidak cukup untuk menarik perhatian luas. Beberapa pemain justru menilai gameplay-nya terlalu “aneh” dan niche, sehingga sulit menjangkau pasar yang lebih besar.
Review Positif, Tapi Komunitas Kecil
Menariknya, Kiln tidak sepenuhnya gagal dari sisi kualitas.

Beberapa laporan menyebut game ini mendapat rating “Mostly Positive” di Steam, dengan pemain memuji konsep dan keseruannya.
Masalahnya bukan pada kualitas, melainkan jumlah pemain yang terlalu sedikit untuk menjaga ekosistem multiplayer tetap hidup.
Faktor Penyebab Kesulitan
Ada beberapa alasan utama mengapa Kiln kesulitan di Steam :
1. Ketergantungan pada Multiplayer
Kiln adalah game multiplayer murni tanpa mode single-player berarti. Jika jumlah pemain sedikit, pengalaman langsung menurun drastis.
2. Persaingan Ketat di Steam
Steam dipenuhi game multiplayer besar yang sudah punya komunitas mapan. Game baru seperti Kiln harus bersaing dengan judul live-service raksasa.
3. Efek “Game Pass”
Karena tersedia di Game Pass sejak hari pertama, banyak pemain Xbox memilih bermain di sana dibanding membeli di Steam. Hal ini bisa memecah basis pemain.
4. Kurangnya Momentum Awal
Game multiplayer sangat bergantung pada “launch momentum”. Tanpa lonjakan pemain di hari pertama, sulit untuk membangun komunitas jangka panjang.
Tren yang Lebih Besar di Industri
Kasus Kiln bukan yang pertama. Beberapa game multiplayer lain juga mengalami nasib serupa, berhasil secara konsep tapi gagal mempertahankan pemain. Bahkan ada game yang kehilangan 90% pemain dalam waktu singkat dan akhirnya ditutup.
Ini menunjukkan bahwa pasar multiplayer saat ini semakin brutal :
game harus langsung sukses, atau berisiko cepat ditinggalkan.
Kiln adalah contoh klasik game ambisius dengan ide segar, namun terjebak dalam realita pasar yang kompetitif.
Meski mendapatkan respons positif dari segi kualitas, minimnya pemain di Steam menjadi masalah besar yang bisa menghambat umur panjangnya.
Jika pengembang ingin menyelamatkan game ini, mereka perlu :
- memperluas komunitas pemain
- menghadirkan update menarik
- dan mungkin membuka akses lebih luas (event gratis, crossplay lebih kuat, dll.)
Tanpa itu, Kiln berisiko menjadi satu lagi game multiplayer unik yang gagal bersinar di tengah padatnya industri.











![[Review] Nostalgia Kembali Hidup di Assassin’s Creed Black Flag Resynced](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/04/wetewtrw-120x86.jpg)



![[Tutorial] Cara Mendapatkan Kemampuan Lompatan Ganda di Crimson Desert](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/7StKQB3euTrxpdBpWYWPmT-120x86.webp)

![[Recomendasi] 5 Game RPG Korea Terbaik Berdasarkan Peringkat](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/14901030711713929592-120x86.webp)
![[Review] DLC Assassin’s Creed Mirage : Valley of Memory, Kisah Perjalanan Basim yang Luar Biasa](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/Assassins-Creed-Mirage-Valley-of-Memory-Review-120x86.jpg)