Ketika Sony bicara soal orisinalitas, Tencent menjawab dengan logika.
Dan di antara dua raksasa ini, dunia game menahan napas menunggu siapa yang akan kalah oleh kata-kata mereka sendiri.
Pertarungan Dimulai dari Sebuah Kalimat
Dalam dunia yang hidup dari inspirasi, Sony dan Tencent kini berperang karena ide.
Sony menuduh, Tencent menolak.
Game yang jadi pusat badai ini Light of Motiram belum pun dirilis, tapi sudah membuat dua imperium digital saling berhadapan di pengadilan.
Ketika Sony menuding penjiplakan atas kemiripan Light of Motiram dengan Horizon Zero Dawn, Tencent menanggapinya dengan satu kalimat dingin yang menggema di seluruh media
“Popularitas bukan bukti kepemilikan.”
Kalimat yang sederhana tapi tajam seperti pisau di ruang sidang.
Aloy Bukan Hak Paten
Sony menganggap Tencent telah meniru Horizon:
dunia pasca-apokaliptik penuh mesin raksasa, protagonis wanita berambut merah, hingga gaya kamera yang khas.
Namun Tencent punya pandangan berbeda.
Mereka menyebut semua elemen itu bukan milik satu game saja, melainkan bagian dari konvensi kreatif yang sudah ada sejak lama.
“Fiksi ilmiah, rambut merah, dan mesin hidup itu bukan hak milik siapa pun,” tulis perwakilan Tencent.
Dengan kata lain, Tencent tak menyangkal kemiripan.
mereka hanya menolak untuk menyebutnya pelanggaran.
Antara Seni dan Strategi
Sony masih di posisi ofensif.
Mereka yakin Light of Motiram bukan sekadar “terinspirasi” tapi menyalin terlalu dalam hingga kehilangan orisinalitas.
Namun di sisi lain, Tencent memilih bertarung lewat logika hukum bukti, bukan perasaan.
Kasus ini kini menjadi contoh sempurna bagaimana seni dan strategi saling berbenturan.
Sony bicara dari sisi emosi kreatif “ini karya kami.”
Tencent bicara dari sisi hukum bisnis “ini hanya ide yang sama.”
Dan di antara keduanya, Light of Motiram berdiri sebagai saksi bisu game yang belum lahir tapi sudah diseret ke medan perang.
Publik Terbelah, Dunia Game Bergetar
Di internet, pertempuran ini berubah jadi debat besar.
Fans Sony membela sang pembuat Horizon, menuduh Tencent hanya ingin mengambil jalan pintas.
Sementara kubu lain berpendapat, “tidak ada ide murni di industri ini hanya interpretasi baru dari mimpi lama.”
Ironisnya, Light of Motiram kini malah semakin populer bukan karena gameplay, tapi karena kontroversinya.
“Setiap ide besar lahir dari inspirasi,
tapi hanya yang berani bertarung yang bisa menyebutnya milik sendiri.”
Sony ingin mempertahankan kehormatan kreativitas.
Tencent ingin mempertahankan hak untuk menafsirkan ulang dunia.
Dan dunia game kini menyaksikan keduanya menulis sejarah baru bukan dengan kode dan piksel,
tapi dengan pasal hukum dan ego perusahaan raksasa.
“Popularitas bukan bukti kepemilikan” kini bukan sekadar pernyataan hukum
tapi manifesto baru industri game modern:
bahwa di era inspirasi tanpa batas, bahkan mimpi pun bisa digugat.



![[Rumor] Ubisoft Siap Rilis Assassin’s Creed : Resynced 9 Juli 2026, Fans Mulai Berspekulasi](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/04/s-350x250.png)
![[Rumor] Capcom Redesign Diana di Pragmata Picu Kontroversi, Fans Terbelah](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/04/4679533-pragmata-maintrailer1-26screenshot-350x250.jpg)

![[Rumor] EA Dikabarkan Akan Tutup 28 April, Fakta Sebenarnya Perlu Diluruskan](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/04/electronic-arts-games_6e988-6180ccfa-350x250.jpeg)








![[Tutorial] Cara Mendapatkan Kemampuan Lompatan Ganda di Crimson Desert](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/7StKQB3euTrxpdBpWYWPmT-120x86.webp)

![[Recomendasi] 5 Game RPG Korea Terbaik Berdasarkan Peringkat](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/14901030711713929592-120x86.webp)
![[Review] DLC Assassin’s Creed Mirage : Valley of Memory, Kisah Perjalanan Basim yang Luar Biasa](https://gimnoar.com/wp-content/uploads/2026/03/Assassins-Creed-Mirage-Valley-of-Memory-Review-120x86.jpg)